Ich liebe Deutsch, wie ich dich liebe---Teil 3



Teil 3 : das ist nur zum Spaß *dibaca das ist nur tsum Schpass (Itu hanya iseng)

“Leg, Jerry itu suka sama lo ya?” tanya Tasya tiba-tiba ketika aku, dan dia sedang duduk di kursi koridor setelah sebelumnya mengobrol. Aku hanya mengangkat bahuku, pertanda tidak tahu. Tasya melanjutkan ucapannya “gue lihat dia suka curi-curi pandang sama lo, sambil senyum-senyum lagi...”
Sambil menarik nafas, aku berkata “sebenarnya dia pernah ngajak aku makan bareng. Cuma aku tolak, karna aku bawa bekal. Terus...” ucapku terpotong. Tasya menatapku menunnggu aku melanjutkan. “terus, dia bilang suka sama cewek pemalu...”

Tasya menengadahkan wajahnya setelah mendengar ucapanku. “hahaha, itu artinya dia suka sama lo...” dia lalu menatapku “terus lo sendiri suka ga sama dia?”

“nnngg, aku gak ada rasa sama sekali sama dia...” jawabku.

Tasya menarik nafas, wajahnya cemberut. “keluarganya Jerry itu kaya loooh...” ucapnya. Aku kembali mengangkat bahuku, pertanda tidak peduli. “apa lo suka sama Rumi? Atau kalian emang pacaran??” tanyanya lagi yang kali ini membuatku kaget. Belom sempat aku menjawab, Tasya kembali berbicara “gue tau, kita belom lama kenal. Tapi gue udah anggep lo temen deket gue di sini. Dan jujur aja, gue agak aneh tiap denger lo ngomong pake embel-embel aku-kamu. Tapi, jujur gue gak merasa terganggu. Karena itu emang hak lo... tapi denger lo ngomong sama Rumi pake embel-embel aku-kamu itu kesannya kaya kalian memang lagi dalam suatu hubungan, atau pendekatan?” Aku hanya bengong mendengar ucapan Tasya. Apa maksudnya ini? Di satu sisi aku senang karena Tasya memang menganggapku teman. Tapi di sisi lain aku jadi sadar kalau hubungan antara aku dengan Rumi yang memang tidak ada sesuatu ternyata bisa membuat orang curiga bahwa seolah-olah kami mempunyai hubungan. Dengan kata lain, aku merasa tidak enak. Aku tidak enak karena membawa-bawa Rumi sehingga digossipkan oleh orang lain. Denganku pula!!

“Tasy. Aku berani sumpah. Aku dan Rumi gak ada hubungan apapun. Kita Cuma teman. Seperti aku dan kamu. Dia baik, itu yang membuatku suka padanya.” Terangku. Tasya menatapku tajam. “ya, maksudku suka sebagai teman.”

“Oke, gue ngerti itu. dan gue tau kalau lo gak bohong. Jangan hiraukan ucapan gue tadi ya... hahaha. Apapun, dan bagaimanapun diri lo, lo harus jadi diri lo sendiri. Dan gue gak bermaksud membuat lo untuk berubah. Gue senang berteman dengan lo, karena lo bersikap apa adanya. Dan gue yakin Rumi juga sependapat.” Ucap Tasya sambil tersenyum. Ucapannya membuatku senang, membuatku merasa seolah-olah diperhatikan oleh orang lain.

Aku tersenyum mendengarnya, seraya berkata “terima kasih”

***
Ini adalah pertemuan kedua mata kuliah Sprache I. Setelah sebelumnya diisi dengan materi sich vorstellen alias perkenalan diri sendiri, sekarang materinya adalah materi anak TK. Ya, materi membaca huruf. Setiap mahasiswa mempunyai buku paketnya sendiri-sendiri. Buku yang cukup mahal namun setara dengan isinya. Nama bukunya “Studio d A1” nama asli bukunya adalah Studio d, sedangkan A1 adalah level penguasaan bahasa Jerman yang paling dasar. Pada semester-semester selanjutnya buku ini akan diganti, dan kita—mahasiswa harus membeli lagi buku baru sesuai dengan tingkatan-tingkatan selanjutnya.

Kami membuka sebuah halaman yang terdapat huruf-huruf yang sudah kita kenal. Alfabet biasa, seperti abjad dalam bahasa Indonesia. Frau Reni memutar CD pembelajaran yang integrit dengan materi buku ini. Tak lama, suara seorang laki-laki membacakan huruf-huruf itu. “Hören Sie mal zu, dann sprechen Sie nach” (Heuren Sii mal tsu, dan sprehen Sii nah) dengarkan sekali, lalu ikuti. Ucap Frau Reni, kami mengangguk.

“A = a
B = be
C = ce
D = de
E = e
F = ef
G = ge
H = ha
I = i
J = yot
K = ka
L = el
M = em
N = en
O = o
P = pe
Q = ku
R = er
S = es
T = te
U = u
V = fau
W = Ve
X = iks
Y = upsilon
Z = tset”

CD itu berhenti dan kami dengan lantang menngikuti apa yang telah diucapkan oleh lelaki dalam CD itu. “ a, be, ce, de, e, ef, ge, ha, i, yot, ka, el, em, en, o, pe, ku, er, es, te, u, fau, ve, iks, upsilon, tset.”
“pada huruf Z, orang Jerman mengatakan seolah terdengar seperti huruf ‘C’ misal dalam kata 20 (Zwanzig) orang Jerman terdengar seperti mengatakan ‘Cwancih’ tapi sebenarnya tidak. Mereka mengatakan ‘tsvantsih’ seperti kita melafalkan kata ‘Pizza’ menjadi ‘Pitsa’” ucap Bu Reni menerangkan. “dan pada huruf W, tidak dibaca ‘we’ tapi ‘ve’. Seperti yang kita tahu, kalau huruf ‘v’ terdengar seperti huruf ‘f’ yang berat seolah-olah tercampur dengan huruf ‘b’” lanjutnya. “huruf Y dibaca seperti huruf ‘u’, dan huruf J dibaca seperti huruf ‘y’”

Kami mencatat apa yang baru saja diterangkan Frau Reni.

“Oh iya, kadang, pengucapan dalam bahasa Jerman untuk huruf ‘g’ yang terletak di akhir, terdengar seperti ‘k’ kadang juga seperti ‘h’ contohnya ‘guten Tag (selamat siang)’ kadang dibaca ‘guten Tak’, kadang juga dibaca ‘guten Tah’. Namun lebih baik diucapkan ditengah-tengah antara ‘k’ dan ‘h’.”
Frau Reni lalu menulis beberapa huruf vokal di papan tulis. 

Ää, Öö, Üü

Itu adalah 3 vokal tambahan yang terdapat dalam bahasa Jerman. Disebut dengan vokal umlaut. A umlaut (Ä) dibaca seperti e, contohnya ‘Märchen (Dongeng)’ dibaca ‘Merchen’. O umlaut (Ö) dibaca seperti oe/eu dalam kata ‘peuyeum’ pada pembacaannya seperti mengucapkan ‘o’ sambil mulutnya dimonyongkan ke bawah. Dan U umlaut (Ü) dibaca seperti u tapi mulutnya dimonyongkan kebawah suaranya terdengar seperti ue.

Aku sudah pernah membaca buku bahasa Jerman sebelumnya, jadi sudah tau apa yang harus aku ucapkan.

***
Siang ini, Tasya pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku gramatika bahasa Jerman. Dia masih Parno terhadap Frau Lisa. Tadi dia mengajakku, tapi aku menolak untuk ikut. Aku duduk sendiri di bangku koridor depan kelas sambil memainkan Games di hape. Rumi entah pergi ke mana, tadi aku sempat bertemu dengannya namun dia terlihat sedang buru-buru, aku tahu kalau dia kebelet. Tapi aku gak terlalu yakin dia ke toilet gedung ini. Karena airnya sedang mampet.

Ketik asyik-asyiknya main, seseorang duduk di sebelahku, aku menggeser dudukku memberi orang itu tempat yang leluasa untuk duduk.  “makasih” ucapnya. Aku menjawab “sama-sama” tanpa melihat wajahnya.

“untuk yang kemarin itu... masalah konjugasi. Seharusnya kamu tidak perlu berbohong...” ucap orang itu mengawali. Deg! Jangan-jangan orang ini yang menulis kata ‘ich liebe dich’ kemarin. Aku menatapnya, Faris! Dia sedang menatapku juga tanpa ekspresi.

“j-jadi kamu yang nulis kalimat itu...” ucapku sambil bengong karna kaget. Dia mengangguk.  “ma-maaf, bukan maksudku tidak menghargai tulisanmu.. tapi aku berusaha menghindari apa yang tidak aku ketahui...” jawabku sekenanya. Nah loooh. Dalam hati aku menggerutu terhadap diriku sendiri karena menjawab dengan kalimat yang tidak nyambung.

“apa yang tidak kamu ketahui?” tanyanya bingung. Aku juga bingung. Aku terdiam lama. Dia lalu kembali angkat bicara “jangan hiraukan maksud pesan itu, kita semua sedang belajar kemarin. Apa yang aku tulis termasuk ke dalam materi pembelajaran juga. Jujur saja aku merasa sangat tidak dihargai, walaupun kamu bilang bukan maksudmu untuk itu.”

“i-iya. Tapi seperti yang aku bilang, aku berusaha untuk menghindari apa yang aku tidak ketahui. Kalimat yang ditulis olehmu tersusun dalam kalimat kasus akkusativ. dimana kata Ich adalah subjek nominativ, dan dich adalah perubahan kata nominativ ‘du’ menjadi ‘dich’ karena fungsi dia menjadi objek atau akusatif. Dan aku belum menguasai materi kasus akusatif itu.” jelasku panjang lebar.

Faris hanya diam mendengar jawabanku. Aku yakin dia mengerti apa yang aku maksudkan. “kamu bilang, kamu menghindari sesuatu yang tidak kamu ketahui. Tapi barusan saja kamu menjelaskannya dengan sangat jelas di depanku. Aku tidak yakin dengan maksudmu ‘tidak aku ketahui’.” Head shoot!! Hidupmu berakhir di sini Legi... kamu sudah tidak akan punya muka untuk berhadapan dengan orang ini lagi. Berpikir, berpikir... apa yang harus kamu katakan lagi padanya.

Satu-satunya cara, adalah jujur. Aku mengangkat wajahku yang sempat tertunduk. “sebenarnya, aku malu. Kamu tidak akan mengerti bahkan seberapa panjang pun aku menjelaskannya padamu. Bahwa aku benar-benar merasa malu untuk membacakan kalimat yang telah kamu tulis.”

“Ya, aku memang tidak mengerti. Karena kamu bahkan belum menjelaskan apapun.” Timpalnya.
“sulit untuk dijelaskan.” Aku mulai berbicara dengan emosi.

“aku yakin tidak sesulit seperti menjelaskan kasus akkusativ tadi...”

Tuhaaaannn... kenapa orang ini?? Memaksa sekali untuk membuka kartuku... Aku menarik nafasku, lalu mulai berbicara “kamu pasti tahu, setiap orang mempunyai sikap dan kepribadian yang berbeda satu sama lain.” Dia mengangguk pertanda setuju. “aku pribadi yang pemalu, tidak suka dengan keramaian, dan orang-orang asing. Aku sangat takut orang-orang akan menyorakiku, itu alasanku tidak membacakan kalimatmu. Dan satu hal yang pasti, aku adalah orang yang sangat was-was. Alasan utamaku tidak membacakan tulisanmu karena aku merasa kalimat itu hanya sebuah candaan yang ingin mempermalukanku.”

Faris memalingkan wajahnya, diam sebentar seolah-olah sedang mencerna ucapanku dan berpikir. Lalu “Ja, genau. Das ist nur zum Spaß... (Ya, tepat sekali. Itu hanya iseng)” ucapnya dengan penekanan yang entah apa artinya sambil terkekeh pelan. Dia langsung berdiri dan pergi dengan muka kesal. Aku yakin dia mengerti apa yang aku maksudkan, namun dia tidak mau menerimanya. Angkuh sekali.

Satu hal yang membuatku bingung. Dari mana dia tahu bahwa akulah yang mendapat kertasnya. Setahuku, aku tidak pernah membolak-balikan kertas itu sehingga terlihat oleh orang lain. Kecuali, kalau dia....

Sengaja melemparnya ke arahku.

Komentar

Posting Komentar

Selamat berkomentar :)
Silahkan mencopy isi blog dengan menyertakan sumbernya :D