Ich liebe Deutsch, wie ich dich liebe---Teil 1



Teil 1 : die neue Klasse *dii noye Klase (Kelas yang baru)
Semua orang bercanda dan saling berkenalan satu sama lain. Wajah mereka tampak senang sekali. Sedangkan aku, selalu saja seperti ini. Hari pertama tahun ajaran baru adalah hari yang paling aku benci sedari 12 tahun lalu aku bersekolah. Bahkan sekarang, ketika aku sudah resmi menjadi seorang mahasiswi sebuah perguruan tinggi negeri, sifat itu masih saja melekat dalam diriku. Awalnya aku pikir ini hanyalah masalah kedewasaan saja, masalahku yang sulit untuk bersosialisasi dengan baik terhadap orang-orang baru.
Masih pukul 09.48, masih ada waktu 12 menit sebelum perkuliahan dimulai. Kursi yang disusun di kelas ini membentuk letter U. Aku duduk di ujung paling depan sebelah kiri, dekat dengan kaca. Aku membenahi bukuku dan meletakkannya di kursi meja yang sedang aku duduki. Mata kuliah pertama adalah mata kuliah Sprache I (baca : Schprahe eins).
Sprache I adalah mata kuliah wajib pada setiap jurusan bahasa Jerman. Mata kuliah ini adalah mata kuliah kebahasaannya yang mempelajari kalimat-kalimat, kata, cara baca, cara berkomunikasi, dan semacamnya. Hanya itu yang aku ketahui setelah membaca buku pedoman akademik yang diberikan pada saat Ospek dulu.
Aku membenarkan letak kacamataku, lalu seseorang menepuk pundakku dari belakang. “Haaaiiiii....” seorang anak laki-laki sedang melambai-lambaikan tangannya padaku dengan gaya yang berlebihan. Aku tahu dia berniat untuk membuat sikap pemaluku yang terkesan kampungan menjadi bahan tertawaan. Dan tak lama, seperti yang sudah kuduga anak-anak lain tertawa melihat tingkahnya yang seolah-olah sedang mempermainkan aku. Aku menunduk malu dan langsung berpaling dari wajahnya. Dia semakin tertawa melihat responku.
Tiba-tiba pintu kelas terbuka, seorang wanita paruh baya masuk dengan dandanan formal sambil membawa sebuah map yang entah isinya apa. “Guten morgen...” ucapnya lantang. Satu kelas seketika menjawab “morgen...”
“Oke, perkenalkan saya Renita Geumala dosen Sprache kalian..” ucapnya. “kalian boleh panggil saya Frau Reni.” Frau adalah julukan yang berarti Ibu dalam bahasa Jerman, dan harus diikuti dengan nama orang dibelakangnya, tidak boleh hanya dengan panggilan Frau. Dia mengambil spidol dari tas kecil milik kelas, lalu menulis sesuatu di papan tulis.
Mein Name ist..../Ich heiße.... (main Name ist.../Ih haisse...)
Ich komme aus.... (ih komme aus...)
Ich wohne in.... (ih woone in...)
“hari pertama ini, kita mulai dengan perkenalan satu persatu...” ucapnya lagi sambil membalikkan tubuhnya menghadap mahasiswa-mahasiswa baru ini. “untuk memberi tahu nama. Saya beri contoh ‘mein Name ist Renita’ atau boleh juga ‘ich heiße Renita. Untuk memberi tahu asal kota, contohnya ‘ich komme aus Bandung’ dan untuk memberi tahu tempat tinggal sekarang contohnya ‘ich wohne in Jakarta’. Ada yang mau memperkenalkan diri pertama?” tanyanya. Aku menunduk, dan menyembunyikan tanganku. Aku tidak mau maju ke depan. Aku takut.
Tiba-tiba, anak laki-laki yang mengerjaiku tadi mengangkat tangannya. Lalu berjalan dengan pasti ke depan kelas. “guten Morgen, mein Name ist Jerry Permana. Ich komme aus Jakarta. Ich wohne in Jakarta.” Anak-anak yang lain bertepuk tangan. Lalu dia kembali ke tempat duduknya.
“siapa selanjutnya?” tanya Frau Reni lagi.
Soerang mahasiswi cantik berjilbab cokelat dengan wajahnya yang teduh berjalan ke depan. Dengan lembut dia membuka mulutnya, dan memperkenalkan diri. “guten Morgen, ich heiße Granita Sukma. Ich komme aus Bogor. Ich wohne in Jakarta.” Dia mengakhiri perkenalannya dengan senyum. Cantiiik sekali. Berbeda denganku, dia bagaikan langit, dan aku bagaikan bumi.
Selanjutnya seorang mahasiswa yang memperkenalkan diri. “guten Morgen.” Suaranya tegas tapi halus. “Ich heiße Faris Anggrawan. Ich komme aus Bogor, aber jetzt miete ich ein Zimmer in der Nähe von Uni...” untuk sesaat anak-anak satu kelas terdiam, begitu pun denganku. Mahasiswa yang bernama Faris ini aku yakin sudah fasih berbahasa Jerman. Sekalipun aku tidak mengerti apa yang dia ucapkannya tadi. Frau Reni hanya tersenyum sambil bertepuk tangan sampai anak-anak yang lain mengikutinya. Mahasiswa itu kembali duduk. Aku dapat melihat para mahasiswi yang mencuri-curi pandang pada mahasiswa itu sambil berbisik-bisik. Aku rasa, Faris ini akan menjadi bintang kelas. Selain karena dia pintar, wajahnya juga sangat tampan. Pantas saja kalau mahasiswi-mahasiswi itu mencuri-curi pandang.
Mahasiswa di kelas ini berjumlah 18 orang. Sudah 15 orang yang maju untuk memperkenalkan diri. Sekarang hanya tinggal aku, bersama seorang mahasiswa imut berkacamata dan seorang mahasiswi modis yang terlihat sangat gaul. Sampai akhirnya kedua orang itu sudah maju untuk memperkenalkan dirinya, mahasiswa itu bernama Rumi, dan si mahasiswi bernama Anastasya. Sekarang tinggal aku yang harus meperkenalkan diriku sendiri.
Dengan sangat gugup, aku melangkahkan kakiku maju ke depan kelas. Rasanya malu sekali. Aku tidak berani untuk mengangkat kepalaku. Yang bisa kulakukan hanya memelintir rambutku yang panjang sepunggung pertanda gugup. Dengan mengumpulkan tenaga, akhirnya aku paksakan untuk bersuara. “gu-guten morgen” ucapku parau dan tersendat-sendat. “mein Name ist Legi Santayana. Ich komme aus Bandung. Ich wohne in Jakarta.” Anak-anak lain bertepuk tangan, dan aku kembali ke tempat dudukku. Tidak terlalu menyeramkan ternyata, tidak seperti yang sebelumnya aku bayangkan.

Komentar