Ich liebe Deutsch, wie ich dich liebe---Teil 4



Teil 4 : die Torte (The Cake)

Hari ini, hari Jumat. Belum genap satu Minggu aku tinggal di Jakarta, mama sudah meneleponku subuh-subuh. Katanya, mama akan menengokku. Karena masih subuh sekali, aku yang masih setengah sadar hanya mengiyakan saja ucapannya.

Setelah mengumpulkan cukup nyawa, setelah mama menelepon, akhirnya aku sadar bahwa kamarku Berantakan sekali. Jam 5 subuh ini akhirnya aku terpaksa membenahi kamar yang sudah seperti kapal pecah setelah sebelumnya sholat subuh. Untungnya, hari ini hanya ada satu mata kuliah dan dimulai jam 10. Jadi, masih bisa untuk benah-benah dengan santai. Mama dan papa mungkin akan sampai siang nanti. Dan aku bilang, aku akan menemui mereka di kampus.

Ternyata, tidak perlu memakan waktu lama untuk membenahi kamarku yang Berantakan ini. Hanya dalam waktu setengah jam saja semuanya sudah kembali rapi. Masih ada sisa beberapa jam untuk santai-santai sampai jam 10 nanti.

Aku turun ke dapur, membuat segelas susu hangat dan membawanya kembali ke kamarku. Nikmat sekali pagi ini. Gara-gara mama menelepon aku jadi bisa bangun subuh dan sempat menikmati pagi. Aku mengambil biskuit dari dalam stoples dan mencelupkannya ke dalam susu, lalu kumakan. Enak sekali, sambil duduk di depan tv menonton berita pagi.

***
Oke, kulturkunde. Itu mata kuliah hari ini. Dalam bahasa Jerman, kultur berarti budaya. Dan Kunde berarti ilmu.  Dalam konteks ini kulturkunde adalah komposita, atau gabungan dari dua buah nomen (kata benda) yaitu kultur dan kunde.

Dosen kali ini seorang laki-laki. Bernama Frederik Sitepu, kami memanggilnya Herr Fred. Meskipun seharusnya beliau dipanggil dengan sebutan Herr Sitepu. Herr adalah sebutan Bapak dalam bahasa Jerman. Sama seperti Frau, Herr tidak boleh berdiri sendiri. Maksudnya harus diikuti oleh nama orang di belakangnya.

Dosen ini dosen terasyik di jurusan ini menurutku. Hobbynya menunjuk mahasiswa untuk menjawab setiap pertanyaan dan mau tidak mau mahasiswa harus berpikir kritis setiap kali menjawab pertanyaannya. Aku rasa anak-anak lain tidak menyukai dosen ini. Tapi aku suka, aku suka gayanya mengajar, pola pikirnya, dan beberapa pendapatnya yang hampir semua aku setujui. Dan yang terakhir, aku suka karena lewat dia lah sepertinya aku mulai suka untuk menjadi pusat perhatian orang-orang.

“Oke, kalian tahu? Apa yang akan kita pelajari di mata kuliah ini?” tanyanya. Semua bingung. Kulturkunde, adalah nama yang asing di telinga mahasiswa-mahasiswa baru ini. Tidak ada yang menjawab sama sekali. “ayolah, tebak saja. Ilmu dimulai dengan tebak-menebak loh...” ucapnya.

Seseorang mengangkat tangannya. “kita akan belajar tentang budaya-budaya Jerman.”

“Oke, bagus sekali. Kira-kira yang seperti apa? Kita semua di sini membutuhkan jawaban yang lebih spesifik.” Timpal dosen itu.

Mahasiswa yang tadi mengangkat tangan diam sebentar, berusaha berpikir. Dari raut mukanya, aku tahu bahwa dia menyesal telah mengangkat tangannya. “seperti dari makanannya, dan festivalnya... Jerman terkenal dengan festivalnnya.”

“misalnya??” tanya dosen itu. mampus loh! Wajah si mahasiswa itu semakin pucat.

“seperti Oktoberfest...” jawab mahasiswa itu lagi. Barulah dosen itu mengangguk.

“dan selain dari budayanya, kita akan belajar apa lagi? sekarang coba anda yang menggunakan kemeja biru kotak-kotak, coba anda tebak.” Tunjuknya pada Faris.

Faris diam dan berpikir sebentar. Lalu “kita akan belajar tentang kebiasaan-kebiasaan orang Jerman.”
“contohnya?”

“orang Jerman, sangat disiplin.” Jawab Faris lagi.

“disiplin masih terlalu umum. Ada bentuk lebih spesifik dari disiplin. Apa itu?”

Faris berpikir, matanya mengeliling sebentar. Aku memperhatikannya, bukan hanya aku sebenarnya, hampir semua anak di kelas memperhatikannya. Dia lalu menatapku, dan segera membuang muka. “tepat waktu.” Jawabnya.

“ya.” Jawab dosen itu. “Pünktlich. Atau tepat waktu.” Lanjutnya. “sebenarnya ada satu hal yang sangat mencirikan orang Jerman. Yaitu Umwelt Freundlich (Umvelt Froynlih) atau cinta lingkungan. Hampir semua produk buatan Jerman ramah lingkungan.” Jelasnya. “ada yang tahu lagi, apa yang akan kita pelajar lagi? Anda mau menebaknya? Nona yang memakai kemeja cokelat?” dia menatapku, sambil menunjuk dengan lengannya.

Orang-orang menatapku termasuk Faris dengan tatapannya yang tidak berekspresi. Aku benci diperlakukan seperti ini, aku benci jika orang-orang menatapku. Seolah-olah aku adalah sebuah benda atau bahan pertunjukan yang siap untuk dipermalukan. Tapi, aku sadar. Jika aku hanya diam saja, justru itu akan semakin membuatku malu. Maka tanpa babibu lagi aku menjawab dengan segera tanpa dipikir-pikir dulu. Apa yang ada di kepalaku sejak kuliah dimulai, kuutarakan secara langsung. “kita akan belajar tentang Jerman itu sendiri. Belajar mengenai budaya dan kebiasaannya yang sudah di jelaskan tadi, cara hidup orang-orang Jerman di sana, tentang kota-kotanya, negara-negara bagiannya,  pemerintahannya, produk-produknya, dan segala macam yang berhubungan dengan Jerman akan dipelajari dalam mata kuliah ini.” Ucapku.

“Bingo!!” kata Herr Fred. Semua orang melihatku. Tapi kali ini dengan tatapan kagum, rasanya ditatap seperti ini sama sekali tidak membuatku malu. Justru ada sebuah perasaan yang entah namanya apa di mana aku ingin mengulangi ucapanku tadi agar semua orang kembali menatapku. Apa ini yang disebut dengan... ‘bangga’? entahlah.

“siapa nama anda?” Herr Fred bertanya padaku.

“Legi. Legi Santayana..” jawabku singkat.

“wooowww... Santayana? Masih ada hubungan darah dengan George Santayana??” guraunya.

Aku mengangkat bahuku, seraya berkata “entahlah”. Aku juga sering berpikir tentang hal itu jika mengingat-ngingat namaku. Apa papa masih ada hubungan darah dengan George Santayana, filsuf Amerika? tapi rasanya tidak mungkin. Pikiranku selalu berakhir dengan kata itu, ya kata ‘tidak mungkin’.

***
“lo kok bisa mikir tepat gitu sih Leg?” tanya Tasya yang duduk di sebelah kiriku di bangku koridor setelah kuliah selesai. Rumi yang baru pulang sholat Jumat juga ikut mendengarkan. Dia duduk di sebelah kananku.

“aku liat judul buku yang dibawa Herr Fred. Judul bukunya ‘Tatsachen über Deutschland’ artinya kan ‘Fakta mengenai Jerman’... dari situ aku mulai berpikir pasti yang akan dipelajari itu semua yang berkaitan dengan Jerman. Bukan Cuma budayanya aja.” Jawabku apa adanya. Tasya dan Rumi mengangguk.

“By the way...” ucap Rumi. “kamu udah bisa ngomong di depan umum tanpa grogi lagi nih...”

“eh, emang kapan ya aku pernah grogi.” Tanyaku pura-pura tidak tahu.

“dari awal masuk kuliah, sampai kemarin. Hari ini kamu udah keren banget.” Jawab Rumi lagi.

“cieleh, keliatan banget sih kamu merhatiin aku... hahaha” aku mencolek dagu Rumi. Tasya, dan Rumi ikut tertawa.

“aku emang suka perhatiin kamu lagi...” jawab Rumi bercanda. Kita bertiga tertawa lagi.

Aku memandang jam tanganku. Pukul 12.45! aku langsung teringat dengan mama yang mau datang. Aku periksa hapeku, siapa tahu ada sms dari mama. Tapi, ketika kulihat, tidak ada satu pun sinyal. Otomatis tidak akan ada satu pun sms yang masuk. Aku harus segera keluar dari gedung ini untuk mendapatkan sinyal. Aku khawatir dengan mama.

“mmm, teman-teman, aku keluar sebentar ya... mau cari sinyal...” ucapku pada Tasya dan Rumi. Mereka mengangguk. Aku segera berjalan keluar menuju taman fakultas, sinyal handphoneku langsung penuh, beberapa sms masuk. 3 sms dari mama, dan sebuah sms dari nomor tidak dikenal, aku buka sms dari mama, semua isinya menanyakan keberadaanku dimana. Mama sudah sampai sedari setengah jam lalu. Dan kubuka 1 pesan terakhir dari nomor tidak dikenal itu.

“Cepet datang ke taman fakultas
Mamamu udah nunggu dari tadi..”

Sms yang singkat. Isinya tidak jauh beda dengan sms yang dikirim mama. Aku tidak tahu siapa yang mengirim sms itu, nomornya sangat asing. Aku mencari-cari dimana mama berada. Akhirnya mataku tertuju pada sebuah gazebo milik anak jurusan bahasa Prancis, di sana aku melihat mama sedang mengobrol dengan seseorang. Aku tidak tahu orang itu siapa, karena wajahnya terhalang oleh badan mama yang sedang memunggungiku. Aku mendekat dan...

Anak itu lagi. Desahkku dalam hati. Anak yang tidak ingin aku temui lagi, aku sudah tidak punya muka untuk bertemu dengannya lagi. Aku ini pengecut memang...

“Ma...” ucapku lirih. Mama yang sedang mengobrol dengan orang yang membuatku malu untuk berhadapan dengannya seketika menoleh.

“eh. Gi... ke mana aja sih dari tadi...” mama nyerocos. “mama tuh dari tadi nunggu kamu.. disms ga di bales-bales, ditelpon juga gak nyambung. Hapemu kamu apain sih?” lanjutnya menggerutu.

“maaf ma, tadi di dalem gedung ga ada sinyal.” Jawabku. “yuk ah, kita ke kosanku...” ajakku agar bisa cepat-cepat menghindar dari orang yang tadi sedang mengobrol dengan mama.

“yaudah deh. Ayo...” jawab mama. Sambil berdiri dari duduknya. Kemudian mengeluarkan sebuah kotak yang aku yakin isinya cheese cake buatan mama—kesukaanku. “ini, buat kamu.. makasih ya udah nemenin tante ngobrol.” Ucapnya sambil menyodorkan kotak itu pada cowok yang tadi ngobrol sama mama.

Aku menarik baju mama, sambil berbisik “kenapa dikasih sih ma??” mama memelototiku. cowok itu melihat dan sepertinya mendengar protesku.

“tante, ga usah repot-repot.” Ucapnya sambil mengembalikan kotak itu. tapi mama gak mau ngambil kotak itu lagi. Yasudah, kalo udah gini sih mau apa lagi. Masa iya aku rebut itu kotak, makin ga punya muka dong aku di depannya. Akhirnya aku tarik-tarik lengan mama untuk segera pergi menjauh dari orang itu.

Tapi mama malah mengucapkan hal yang engga-engga. “kamu, main aja yu sini ke kosannya Legi...”
Aku langsung memelototi mama. “mama, kosan aku itu kosan perempuan... cowok ga boleh masuk.” Ucapku di depan mama dan orang itu.

Mama membulatkan mulutnya pertanda baru tahu. Akhirnya kami berdua pamit, dan segera pergi menuju kosanku.

***
“mama itu seneng Gi...” ucap mama tiba-tiba ketika kami baru saja masuk kamar kosan. Aku mendelik pertanda tidak mengerti. Mama melanjutkan “kamu tuh setelah jadi mahasiswi akhirnya punya teman juga. Padahal kan, sedari SD sampe SMA temen kamu ya Cuma mama aja.”

Aku kembali menerawang, ingatanku masih sangat jelas ketika SMA dulu. Masa yang menurut orang-orang adalah masa yang tidak akan pernah dilupakan. Masa yang sangat menyenangkan yang dialami oleh anak-anak remaja pada masanya. Tapi tidak denganku. Aku adalah siswi SMA yang selalu sendiri, dibully oleh teman-temanku yang lain. Ada yang mama tidak tahu, setiap hari, setiap kali jam istirahat aku selalu mengurung diri di kamar mandi sekolah untuk menghindari geng cewe kelas yang selalu ngebully aku.

Mungkin karena itu juga, aku menjadi orang yang was-was ketika bertemu dengan orang asing. Rasanya takut sekali. Aku tidak pernah menceritakan pada mama dan papa bahwa aku tersiksa bersekolah di SMA ku dulu. Karena jika aku memberitahunya, mama akan cepat bertindak dan memindahkanku ke sekolah lain. Aku tahu apa yang dipikirkan oleh mama.

Aku tidak mau itu terjadi. Sekalipun aku tersiksa berada di sekolah itu, namun ketika itu aku hanyalah seorang remaja putri yang sedang suka-sukanya pada seorang guru muda. Guru bahasa Jermanku. Herr Joan. Orang yang selalu menjadi teman diskusiku, mengenai setiap pelajaran, dan hal-hal lain. Lewat dialah, aku termotivasi untuk masuk jurusan Bahasa Jerman ini. Dan lewat dia pula lah, aku medapat banyak pelajaran bahasa Jerman yang mestinya belum aku pelajari. Aku tidak mau jika aku harus berpisah dengannya ketika itu. 

Hubunganku dengannya sangat dekat. Aku bahkan selalu bercerita tentang Karin si mentega, teman khayalanku. Dia selalu terlihat senang ketika mendengarnya, dan aku pun semakin semangat untuk bercerita tentang apa yang kulakukan dengan karin. Sampai akhirnya setelah Karin pergi dan tidak pernah kembali lagi sampai sekarang, aku sadar bahwa aku hanyalah seorang gadis bodoh yang hobby berimajinasi seperti anak kecil. Aku yakin sekali Herr Joan dengan sikapnya yang antusias itu hanya bersikap menghiburku. Dia tidak sama sekali tertarik pada apa yang aku ceritakan.

Herr Joan tau, kalau aku selalu dibully oleh teman-temanku yang lain. Dia sudah pernah melaporkannya pada kepala sekolah. Namun, ketika aku dengan geng-geng cewe yang selalu ngebully itu di sidang, aku selalu mengelak bahwa aku telah dibully. Aku pikir ketika itu, anak-anak cewe itu akan berterima kasih padaku karena tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya, ternyata tidak sama sekali. Mereka terus saja melakukan kebiasaan mereka sebelumnya kepadaku.

Aku masih ingat percakapanku bersama Herr Joan ketika sedang membahas pelajaran bahasa Jerman di perpustakaan sepulang sekolah. Dia berkata “Aku tidak mengerti apa yang ada di pikiranmu, aku tau kamu selalu dibully, dan aku berusaha untuk membelamu. Tapi, terlepas dari itu semua, aku juga yakin bahwa kamu punya alasan tertentu mengapa bertindak seperti itu.” ketika itu, dengan lirih aku menjawab. “ada sesuatu hal yang aku yakin akan terjadi dan bahkan lebih buruk dari bully-an itu jika aku menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku mohon dengan sangat pada bapak, aku tahu benar apa yang aku perbuat, maka dari itu tolong mulai dari sekarang jangan mempermasalahkan hal itu lagi.” Aku tahu betul jika perkara ini membesar, berita tentang aku yang di bully akan terdengar sampai kuping mama dan papa. Dan itu artinya akan terjadi hal yang buruk. Hal buruk itu adalah berpisah dengan Herr Joan.

Cukup untuk mengingat masa lalu. aku masih bingung dengan ucapan mama bahwa aku mempunyai teman. Karena setahuku, aku belum memperkenalkan Tasya dan Rumi pada mama. “mama, tau dari mana aku sudah punya  teman?” tanyaku penasaran

“Laah, cowok yang ganteng tadi itu kan bilang dia teman kamu.. gimana sih. duh mama lupa siapa sih namanya? Tadi tuh begitu dia pulang sholat Jumat, mama nanyain kamu sama dia. kali aja dia kenal, eh gataunya malah sekelas.” Jawab mama. Aiish, mama salah mengerti. Maksud orang itu bilang teman kan maksudnya teman sekelas, bukan teman dekat.

“Faris. temenku bukan Cuma dia ma... dia hanya teman sekelas. Aku punya dua teman dekat lain sekarang.” Timpalku.

“dua??” mama kaget. “siapa saja? Mama mau kenal sama mereka. Mereka teman dekat pertamamu kan?” mama gembira mendengar bahwa sekarang aku sudah mempunyai dua teman dekat.

Aku mengangguk pasti sambil tersenyum. “namanya Tasya dan Rumi.” Jawabku.

“ajak mereka ke sini, mama mau kenal...” pinta mama.

“gak bisa ma.. Rumi kan cowo. Mana bisa dia masuk kosan aku... tapi dia juga ngekos deket-deket sini sih. Jadi yaa mungkin mama bisa liat dia nanti kalau dia lewat depan kosan aku.”

“Kalo itu ajak Tasya ke sini...” aku pun menelpon Tasya, dan dia segera datang bersama Rumi. Namun Rumi hanya akan mengantar Tasya dan segera pulang ke kosannya.

***
Mama sudah balik ke Bandung dari jam 5 sore tadi. Tasya juga sudah pulang di antar Rumi sebelum magrib dengan motornya. Dan aku sendirian lagi. Sedih rasanya ketika tadi siang banyak orang yang bercanda bersamaku, dan malamnya, aku ditinggal lagi sendiri. Sepi.

Jam menunjukkan pukul 19.23. hari ini Jumat, besok libur. Aku turun ke bawah, ke ruang tamu kosan. Sepi juga. Hanya ada 1-2 orang yang tetap tinggal di kosan. Yang lainnya dijemput pacarnya untuk jalan-jalan. Aku memang belum mengenal tetangga kosanku, tapi sekarang, ketika aku merasa sendiri rasanya sangat tidak nyaman. Aneh, padahal dulu justru sebaliknya. aku tidak suka jika berada di tempat ramai.

Seorang tetangga kosku berjalan dari dapur ke ruang tamu, dia duduk di sofa sambil menikmati mi instan yang baru saja dibuatnya. Dia tersenyum padaku. “hey...” sapanya. Aku balas dengan senyumanku. Sudah saatnya aku untuk berubah, untuk tidak membatasi diriku sendiri terhadap orang lain. “kamu yang kos di kamar nomor 6 ya?” tanyanya. Aku mengangguk. “kita belum sempat kenalan. Aku Rani...” dia mengulurkan tangannya.

Dan aku menjabatnya. “aku Legi.” Timpalku.

“kamu mau makan? Di dapur masih banyak tuh persediaan mi..” tawarnya.

Aku menggeleng sambil tersenyum. “ngga. Aku sudah makan tadi. Bosan ya...” ucapku. Dia mengangguk sambil menyeruput kuah mi nya. “iya” jawabnya menyusul. “anak-anak lain pada hangout bareng pacarnya. Haahaha. Aku sih ga punya pacar.”

“kenapa ga nyari pacar aja?” tanyaku.

“aku pernah pacaran semester lalu. tapi kita putus karna pacarku itu dapat beasiswa keluar negeri. Ke Aussie.” Jawabnya, sedikit curhat. Aku mengangguk-ngangguk. “kamu sendiri? Gimana? Pacarmu lagi sibuk ya?”

“Eeeh? Aku ngga punya pacar mbak...” jawabku dengan embel-embel mbak. Karna dari ceritanya aku tahu kalau dia sudah agak senior dibanding aku.

“ah yang bener? Kayanya menurutku banyak yang suka deh sama kamu.” Timpal Rani. “kamu lugu sih, lucu keliatannya, ngegemesin juga. hehehehe” lanjutnya sambil cengengesan.

Drrrt, drrrt... tiba-tiba handphoneku bergetar. Sms masuk. Ketika kulihat, dari nomor tidak kenal yang tadi siang sms aku. Aku buka sms nya

“alamat kosanmu di mana?”

Aku bingung, sedikit kesal juga karena orang yang sms ini gak tahu malu. Bukannya kasih tau nama dulu, malah nyerobot nanya hal pribadi. Aku langsung balas

“Siapa?”

Tak lama setelah kubalas, masuk lagi sms darinya.

“Faris. Cepet kirim alamat kosanmu.”

Aku balas lagi

“Buat apa?”

Dengan cepat dia membalas

“jangan banyak tanya dulu. Cepetan kirim!! Schnell (cepet)!!”

Aku takut juga. Sepertinya dia sudah agak marah. Didorong oleh perasaan takut dan bersalah karena membuat kalimat yang dia buat tempo hari lalu terkesan tidak dihargai, akhirnya dengan terpaksa aku mebalas sms nya.

“Jl. Pratekan nomor 12”

dia membalas lagi.

“Danke :)” (terimakasih)

Aku malas untuk membalas smsnya lagi. Aku kembali mengobrol dengan teman baruku di kosan. Sekitar 15 menit kemudian, masuk sms lagi.

“aku di depan kosanmu.”

Ehhh?? Mau apa dia sampai datang ke sini segala? Aku langsung membuka gorden dan menatap keluar. Di depan gerbang ada siluet seorang laki-laki yang sedang berdiri bersebelahan dengan motornya. Aku yakin itu Faris. Aku takut. Apa yang akan dia lakukan malam-malam seperti ini di depan kosan wanita? Aku menelan ludah, jangan-jangan dia seorang maniak.

Mbak Rani yang melihatku menyingkap gorden langsung bertanya. “temanmu ya?” aku mengangguk. “cepet samperin. Kasian dia nunggu...” aku lalu membuka pintu dan keluar menuju Faris berdiri, lalu membuka gerbangnya. Dia tersenyum menatapku. Tapi aku tidak.

“ada apa ya?” tanyaku ketus.

“maaf ya kalo ganggu kamu.” Ucapnya basa-basi. “aku Cuma mau ngembaliin cheese cake tadi siang.”

Aku heran “ooh, kenapa harus dibalikin? Mama kan udah ngasih itu sama kamu. Terima aja. Gapapa...” timpalku.

“Ya, tapi aku tahu kamu gak suka mamamu ngasih cheese cake ini ke aku. Jadi ini aku balikin ke kamu. Mamamu pasti buatin buat kamu kan? Bukan buat aku.” Dia menyodorkan kotak kue yang tadi siang diberikan mama padanya kepadaku.

“gapapa. Aku ikhlas kok...” timpalku berusaha menolak.

Dia terdiam sebentar. Lalu kembali berkata “orang ikhlas gak pernah bilang kalau dia ikhlas...” pintar sekali bicara. Kembali. Aku dipermalukan lagi olehnya. Dengan terpaksa aku menerima kue itu lagi. Lalu tiba-tiba Gyyuuurrr... hujan turun. Mbak Rani keluar dari dalam sambil teriak-teriak. “Legiii... temannya ajak masuk aja. Kasian, hujaan...” aku cemberut. Biarin aja sih, dia kehujanan.

Aku menjawab “tapi dia cowok mbak... masa aku ajak ke dalam?”

“gapapa. Kalau di ruang tamu doang gapapa. Yang lain juga sering bawa pacarnya di ruang tamu. Cepet...”

Aku hanya mendelikkan mataku padanya pertanda mempersilakannya masuk. Faris menggiring motornya masuk pelataran kosanku. Lalu memarkirnya di depan pintu. Dia lalu masuk bersamaku ke dalam.

“silakan duduk” ucap mbak Rani. Faris duduk di sofa paling dekat dengan pintu sambil tersenyum. Aku naik ke kamarku, membawa handuk bersih. Kasian kalau anak orang sampai sakit gara-gara cuma mau ngasih kue aja.

Ketika aku turun, cheese cake yang dibawa Faris sudah dipotong-potong oleh mbak Rani, Faris hanya tersenyum aneh padaku. “Mbak. Itu kuenya, bukan buatku... kenapa malah dipotong-potong?” ucapku pada mbak Rani.

“ngga kok. Temenmu bilang ini kue kamu, tapi kamu nolak terus, yasudah mbak potong-potong aja. Buat suguhan temanmu... hehehe kita di sini ga ada snack soalnya.” Mbak Rani lalu masuk ke dapur. Mengambilkan air minum untuk Faris. Lalu pergi ke kamarnya.

“Mbak...” panggilku, sebelum dia masuk kamarnya. “ini ambil doong kuenya. Masa ditinggal sih... aku sama dia gak bakal abis makan semua...” kataku.

“wah, boleh nih? Hehehe makasih ya...” dia lalu mengambil sepotong dan menghilang di balik pintu kamarnya.

Aku memberikan handuk bersih yang tadi aku ambil pada Faris. “nih, pakai. Nanti masuk angin lagi...” dia menerimanya lalu menyeka rambut, dan wajahnya yang basah. Rambutnya jadi acak-acakan.

Faris mengembalikan handuknya. “kamu juga kebasahan. Pakai nih, nanti masuk angin lagi.”

“ooh, aku gapapa nanti di kamar aku bersihin...” jawabku agak nyantai.

Faris menarik kembali handuk itu. “jangan gitu, kalau gak buru-buru dibersihin nanti kamu malah sakit lagi.” Dia lalu mengelap wajahku yang basah dengan handuk itu. aku bengong, tapi hanya sebentar. Aku langsung mengambil handuk itu dan menyeka wajah, dan rambutku dengannya.

“aku bisa sendiri.” Jawabku gugup.

Faris tertawa melihat tingkahku yang aneh. Kalau diingat-ingat siih tingkahku memang menggelikan. Aku sendiri juga jadi ikut tertawa.

“Oh iya.” Ucap kami bersamaan.

“silakan kamu dulu yang bicara.” Tawar faris. Aku mengangguk.

“masalah kalimat itu... aku benar-benar sudah berpikir. Dan aku rasa aku memang salah. Seharusnya aku tidak perlu berbohong karena malu. Aku sadar, apa yang ditulis olehmu itu bukan sesuatu yang patut untuk dianggap candaan. Das ist nicht zum Spaß (itu bukan buat iseng). Seperti yang kamu bilang, kita semua sedang belajar ketika itu. setiap kata atau kalimat yang keluar dalam bahasa Jerman ketika itu semuanya termasuk pada materi pembelajaran. Aku malu untuk berterus terang padamu. Bahwa aku benar-benar menyesal. Aku meminta maaf dari lubuk hatiku yang paling dalam... maaf.” Ucapku lirih.

Aku lihat Faris menjadi salah tingkah. Dia lalu berkata “i-iya. Aku juga minta maaf. Aku bisa ngerti sekarang kenapa kamu berbohong waktu itu. ketika aku memastikannya padamu di bangku koridor tempo lalu, aku sadar. Aku terlalu egois. Aku tidak bisa menerima bahwa hal itu memang sangat mengganggumu. Ketika itu yang aku rasakan hanya... kesal saja. Padahal itu Cuma kalimat pendek yang seharusnya tidak terlalu aku permasalahkan.  Aku juga benar-benar meminnta maaf karena telah membuatmu merasa malu ketika itu, dan membuatmu merasa bersalah.”

Kami saling tersenyum. Lalu menyantap kue-kue yang sudah dipotong oleh mbak Rani tadi. Sampai akhirnya hujan reda, Faris pamit pulang padaku, dan pada mbak Rani. Kue yang tersisa masih banyak. Aku simpan untuk penghuni kos yang lain.

Tepat ketika Faris keluar dari gerbang, anak-anak kos yang tadi hangout kembali ke kosan. “eh, siapa tuh cowok kece yang barusan pulang??” tanya seseorang dari mereka.

Mbak Rani menjawab “dia ada urusan sama si Legi...” sambil menunjuk padaku.

“waaah, pacarmu ya dek?” tanya yang lainnya lagi sambil cengar-cengir.

“bukan. Dia temen sekelas.” Jawabku.

Mbak Rani lalu menimpali “temen sekelas yang bawain oleh-oleh cheese cake. Hahaha”

“wwaaaaaahhh, berarti dia modusin kamu dek. Hehe”

Aku diam, berusaha mencerna apa yang diucapkan senior-senior kos ku. Sampai akhirnya aku mengerti apa yang mereka maksud. Tapi itu adalah hal yang tidak mungkin. Dan kalaupun mungkin, hal itu akan terjadi setelah rambutnya Tasya yang sudah banyak mengalami perawatan rontok sampai kepalanya botak, dan hal itu juga tidak mungkin. Berarti Faris tidak mungkin menyukaiku. Aku tersenyum kecil. Lalu berkata “mbak, kuenya masih banyak di kulkas, ambil aja ya kalau mau...” tawarku, lalu aku berjalan ke lantai dua. Ke kamarku.

Mereka langsung berteriak “serbuuuuuu!!!” sambil berlarian ke arah dapur.

Komentar