Ich liebe Deutsch, wie ich dich liebe---Teil 2



Teil 2 : wir sind Freunde *dibaca = wir sind Froynde (kita adalah teman)
Pagi yang cerah di selasa pagi. Aku keluar dari kamar kosku untuk menjemur handuk di pagar depan kamar. Aku baru saja selesai mandi dan sudah berdandan untuk pergi ke kampus. Dandananku, ya seperti ini. Kacamata min 3 dengan Frame tebal ala Velma di Scooby Doo, celana jeans agak gombrang, kemeja motif kotak-kotak, rambut di kucir kuda ke belakang, dan sepatu Kets.

Aku bukanlah orang yang mengerti fashion, aku suka dengan diriku apa adanya. Meskipun tidak jarang orang yang menjauh dariku karena dandananku yang ngasal seperti ini. Aku takut juga sih, apalagi sekarang aku sudah menjadi mahasiswa dimana sudah ditiadakannya aturan untuk memakai baju seragam. Itu tandanya peluang orang untuk menjauhiku semakin banyak.

Aku masuk kembali ke dalam kamar untuk membawa tas dan sepatu yang kutaruh di sebelah lemari. Kemudian segera memakai sepatu dan meluncur keluar gerbang menuju kampus dengan ceria. Sambil berlari-lari aku membuka gerbang itu dan Bruk!! Aku menabrak seseorang yang sedang melintas di depan gerbang. Aku lihat seorang anak laki-laki seumuran denganku sampai terduduk karena tertabrak olehku. Kacamata yang dipakainya pun ikut jatuh. Aku segera membantunya berdiri. Dan begitu kulihat, ternyata dia Rumi. Teman sekelasku.

“Eh, maaf maaf... aku gak sengaja.” Ucapku padanya. Dia tersenyum, sambil mengangguk. Tangannya baret-baret, tapi untungnya tidak sampai mengeluarkan darah. Aku segera mengeluarkan plaster yang memang selalu sedia aku bawa di dalam tas. Lalu melekatkannya pada luka baret di sekitar tangan Rumi. “maaaafffff, aku ceroboh. Maaf ya...” ucapku lagi merasa berdosa.

Rumi tertawa kecil sambil menepuk-nepuk punggungku. “sudah, sudah... bukan masalah besar kok... hahaha aku gak apa-apa.” Ucapnya berusaha menghiburku yang sangat khawatir.

“tapi kamu maafin aku kan?” tanyaku memastikan.
Dia mengangguk. “iya, aku juga tau kamu gak sengaja... nyantai aja...” ucapnya. “eh, sudah hampir jam 8, cepetan. Nanti kesiangan...  yuk”
Aku tersenyum padanya. Dia orang baik. Kami lalu berjalan bersama menuju kampus bersamaan.

***
Aku duduk lagi ditempat yang kemarin aku tempati. Dan Rumi duduk disebelahku. Masih belum jam 8 tepat. Anak-anak masih riuh di dalam kelas. Jerry, tiba-tiba mendekat padaku dan mengusir Rumi dari tempat duduknya, dia mengulurkan tangannya, dan meminta maaf. “maaf ya, untuk kemarin..” aku mengangguk sambil tersenyum. Dia melanjutkan “sebagai permintaan maafku, kamu mau ya makan siang bareng aku... aku yang bayar deh.. gimana?” tanyanya sambil mengangkat-ngangkat halisnya ke atas.

“m-maaf, aku sudah bawa bekal makan siang...” tolakku halus. Aku memang membawa bekal, dan jujur aku tidak mau makan siang bareng anak ini. Sekalipun dia sudah meminta maaf, oke fine, aku maafin, tulus. Tapi kalau dia minta hal seperti itu rasanya seolah-olah aku akan dikerjain lagi.

“yaah, yasudah deh. Lain kali ya...” dia tersenyum. Aku mengangguk gugup. Dia tertawa kecil “aku suka sama cewek pemalu.” Lanjutnya bicara lancar tanpa halangan. Aku kaget mendengar ucapannya, aku lihat di bagian ujung kanan masih ada bangku kosong. Aku segera pergi meninggalkan Jerry dan pindah ke tempat duduk yang kosong di sebelah kanan itu. Jerry hanya bengong.

“hai. Nama lo, Legi kan?” seorang cewek modis yang bernama Anastasya duduk di bangku sebelahku. Dia tersenyum manis sekali. Aku mengangguk sambil tersenyum. Rasanya begitu kontras ketika aku duduk bersebelahan dengannya. Aku yang sangat tidak fashionable, dan dia yang modis sekali. Seperti timur dan barat.

“aku dengar, dosen mata kuliah sekarang killer loh...” ucap  Anastasya membuka percakapan.

“oh ya?” aku hanya menjawab seperlunya.

“Ya. Aku dengar dari senior-senior tingkat. Katanya si ibu dosennya itu sangat perfeksionis dalam masalah gramatik. Kalau ada satu saja yang salah, akan terus ditanya. Ckckckck” dia berbicara panjang lebar. Aku tersenyum, dia juga ramah. Aku senang.

Aku mulai berani menimpali ucapannya.  “waaa, sepertinya bantalan sulit buat dapetin nilai bagus di mata kuliah ini.” Anastasya mengangguk. “Tapi kita harus berusaha ya an...”

“eee, jangan panggil gue an. Panggil aja Tasya.” Dia kembali tersenyum. Aku membalas senyumannya “oke.” Dia ramah, baik, dan todak merasa risih dengan keadaankuu. Sepertinnya kami akan menjadi teman baik.

***
Aku benar-benar tidak bisa konsentrasi dalam mata kuliah ini. Aku lihat Jerry selalu menatapku sambil tersenyum. Orang itu benar-benar mengangguku. Aku hanya bisa menangkap sebagian materi yang disampaikan Frau Lisa, dosen strukturenku. Strukturen adalah mata kuliah tata bahasa atau gramatika dalam setiap jurusan bahasa Jerman. Dan dosen ini adalah dosen killer.

“anda yang di depan!! Perhatikan ketika saya bicara!” ucapnya sambil menunjuk padaku. Aku hanya mengangguk pertanda mengiyakan sekaligus meminta maaf. Setidaknya, setelah digertak olehnya, aku mulai bisa berkonsentrasi dengan pelajaran ini. Frau Lisa menulis sebuah daftar di papan tulis

KONJUGASI
                           Kommen (datang)      wohnen (tinggal) gehen (pergi)   
ich (ih)      komme              wohne (woone)     gehe (geye)
du (du)      kommst             wohnst             gehst (geest)
er (er)      kommt             wohnt              geht (geet)
es (es)      kommt             wohnt              geht
sie (sii)      kommt             wohnt              geht
wir (wir)    kommen            wohnen (woonen)   gehen (geyen)
ihr (iir)      kommt             wohnt              geht
Sie/sie (sii)  kommen            wohnen             gehen

Aku sudah mendapat pelajaran ini ketika di SMA. Maksud dari daftar di atas adalah perubahan kata kerja jika dilakukan oleh personal pronomen atau kata ganti orang.  Misalnya ketika aku sendiri sedang bercerita, maka aku menggunakan kata ganti ‘ich’. Itu berarti ketika mengatakan ‘aku datang’, dalam bahasa Jerman kata ‘aku’ berarti ‘ich’ dan kata ‘datang’ berarti ‘kommen’ maka ketika aku tulis dalam bahasa Jerman, kata kerja datang yang berarti ‘kommen’ yang masih berbentuk infinitiv harus diubah menjadi ‘komme’. Jadi kalimatnya akan menjadi ‘ich komme’. Begitu pun dengan kata ganti orang yang lainnya seperti
du = kamu. menjadi du kommst (kamu datang),
er = dia (laki). menjadi er kommt (dia (lk) datang),
es = itu. menjadi es kommt (itu datang),
sie = dia (pr). Menjadi sie kommt (dia (pr) datang),
wir = kami. Menjadi wir kommen (kami datang),
ihr = kalian. Menjadi Ihr kommt (kalian datang),
sie = mereka. menjadi sie kommen (mereka datang), dan
Sie dengan huruf S kapital = anda/kamu dalam konteks formal atau kesopanan. Menjadi Sie kommen (anda datang).

“oke sekarang kita bermain.” Ucap Frau Lisa. “kalian tulis di sobekan kertas sebuah kalimat yang terdapat personal pronomen dan verb yang sudah dikonjugasikan, setelah itu kertasnya kalian remas-remas sampai berbentuk bola dan lempar ke temannya yang lain. Teman yang mendapatkan bola kertas itu harus membacakan apa yang tertera, lalu menyebutkan verb yang sudah dikonjugasikan tersebut dalam bentuk infinitiv, dan menterjemahkannya. Boleh buka kamus. Mengerti?”

“mengerti bu” anak-anak serempak menjawab. Mereka sibuk dengan tulisan mereka lalu meremas-remas kertas mereka masing-masing.

“ya, lempar sekarang!” ucap Frau Lisa. Semua saling melempar kertas itu. dan hap! Aku mendapat bola yang berukuran sedang. Lalu dengan perlahan membukanya. Deg. Tulisan yang tertera disitu, aku sangat kenal itu.

“Ich liebe dich (I Love you)”

Aku mencari-cari siapa orang yang melempar kertas ini. Tapi tidak ada yang mencurigakan selain Jerry yang terus tersenyum menatapku. Jangan-jangan kertas ini dia yang melempar. Aku menelan ludahku, tidak tahu apa yang harus aku sebutkan nanti ketika giliranku membacakan kalimat dalam kertas ini.

“Oke, dimulai dari ujung paling kiri untuk membacakan, menyebutkan infinitivnnya, dan menterjemahkannya.” Ucap Frau Lisa.

Seharusnya, akulah yang terlebih dulu membacakannya. Tapi karena tadi Jerry menggodaku, akhirnya aku pindah ke ujung paling kanan, disebelah Tasya. Yang berarti aku mendapat giliran paling akhir. Tapi, karena kepindahanku, otomatis sekarang Rumi lah yang membacakan isi dalam kertas yang didapatnya. Rumi menutup kamusnya, setelah sebelumnya dia mencari arti dari tulisan dalam kertas itu. lalu dia segera membuka mulutnya. “Du Schlafst” bacanya “Infinitivnya adalah Schlafen, dan artinya adalah kamu tidur”

Selanjutya seorang mahasiswa yang aku lupa namanya siapa. “Ich sehe (Ih seye). Infinitivnya sehen (seyen), dan artinya aku melihat.”

Setelah itu giliran Jerry. “er spielt (er schpiilt). Infinitivnya spielen (schpiilen), dan artinya dia bermain”

Sekarang giliran Granita. “du trinkst (triingkst). Infinitivnya trinken (tringken), artinya kamu minum”

Lalu dilanjut oleh beberapa mahasiswa dan mahasiswi lain. Sampai di tengah, kini giliran Faris yang berbicara “ihr fliegt (fliigt). Infinitiv fliegen (fliigen), artinya kalian terbang”

Beberapa mahasiswa lalu melanjutkan sampai akhirnya tiba bagian Tasya. Aku deg-degan, malu kalau sampai aku membacakan apa yang sebenarnya tertulis dalam kertas yang aku dapat. Tapi ketika Tasya mulai membacakan kertasnya, aku dengan sangat konsentrasi mendengarnya. “Ich schneide (Ih shnaide). Infinitivnya schneiden (schnaiden), dan artinya aku memotong”

Kini tiba saatnya giliranku. Aku kembali membuka kertasku. Sebelum membaca apa yang tertulis di atas secarik kertas itu, aku menatap kembali orang-orang. Sebagian terlihat tidak peduli dengan apa yang akan aku ucapkan. Mereka tidak terlihat antusias. Sebagian lagi menungguku untuk berbicara. Mereka menatapku. Jerry, masih tetap tersenyum padaku. Seolah-olah menungguku untuk berbicara. Rumi juga menatapku. Dia mengepalkan tangannya seolah menyemangatiku. Dan satu orang lagi yang menatapku, Faris. Dia hanya menatapku sekilas dan kembali memalingkan lagi wajahnya.

“Ich lie...” ucapku terpotong. Aku mengulangnya lagi “Ich........... lebe” akhirnya aku merubah apa yang tertulis dalam kertas yang seharusnya ‘ich liebe dich’ menjadi ‘ich lebe’ aku kembali melanjutkan “infinitivnya leben, dan ich lebe artinya aku hidup” aku menarik nafasku karena tidak jadi ditertawakan. Lega rasanya. Aku kembali menatap wajah anak-anak lain. Mencari wajah seseorang yang bingung karena tulisannya tidak ada yang membacakan. Tapi sepertinya tidak ada yang menyadari sama sekali. Semua orang bersikap biasa saja. Frau Lisa kembali melanjutkan mengajar sampai Mittagspause (Jam istirahat siang).

***
“hey. Makan bareng yuu...” ajak Tasya sambil menggaet-gaet tanganku. Ini pertama kalinya aku diperlakukan seperti ini. Seperti seorang teman. Aku senang, aku ingin ikut makan siang dengannya. Tapi aku ingat bahwa aku bawa bekal untuk makan siangku.

“aduh, maaf ya Tasy. Aku udah bawa bekal. Kamu makan sendiri aja ya...” ucapku menyesal.

Tasya memonyongkan bibirnya. “Yaaahh, yasudah deh kalo itu gue beli makannya dibungkus aja. Lo mau makan dimana? Biar nanti gue nyusul. Kita makan bareng.” Cetus Tasya tetap kekeh ingin makan bersamaku.

Aku celingak-celinguk mencari tempat nyaman untuk makan. Lalu “ah, disitu aja.” Tunjukku pada sebuah pohon rindang. “aku makan di bawah pohon itu aja. Gapapa kan?” yakinku padanya. Tasya mengangguk sambil tersenyum.

“Oke, gue beli makan dulu ya...” Tasya lalu pergi. Dan aku berjalan menuju pohon itu, lalu duduk dibawahnya. Hawanya sejuk sekali. Aku membuka tasku dan mengeluarkan kotak bekal makan siangku, lalu membuka tutupnya. Menu makan siang hari ini adalah nasi dengan capcay dan lauknya kornet yang ditumis setengah matang. Kesukaanku. Aku membuatnya tadi subuh di dapur kosan. Aku tidak begitu pandai memasak, tapi kalau untuk memasak makanan kesukaanku sendiri, seperti capcay dan kornet tumis, menurutku rasanya sudah cukup enak.

Aku belum menyantap sesuap pun dari bekalku. Aku mau menunggu Tasya. Kita sudah janji akan makan bersama. Jadi, tidak adil kalau aku makan duluan. Aku menutup kembali bekalku agar tidak dihinggapi debu.

“Legi!!” seseorang memanggilku dari kejauhan. Aku memfokuskan mataku untuk melihat siapa yang memanggil tadi. Aku lihat seorang laki-laki sedang melambai, tapi aku tidak yakin itu siapa karena dia berada di tempat yang lumayan jauh dari tempatku duduk. Orang itu menghampiriku, dan setelah jaraknya sudah berada sekitar 2 meter dariku, aku bisa melihat bahwa orang itu adalah Rumi. Aku tersenyum padanya. Dia lalu duduk disebelahku.

“Kok diam di sini? Gak makan??” tanyanya sambil senderan di badan pohon.
“aku lagi nunggu Tasya. Kita mau makan bareng di sini. Kamu sendiri, gak makan?” aku balik bertanya.

“duitku ketinggalan di kosan...” jawab Rumi enteng. “kamu bawa bekal ya?”
“eh, iya nih.. hehe. kamu mau? Pasti laper kan kalo ga makan siang. Padahal kita masih ada jam lagi sampai nanti sore.” Tawarku.

“ah ngga ah. Kalo aku makan, aku juga kasian sama kamu, nanti malah kamu yang kelaperan. Hehehe” jawabnya sambil cengengesan.

“aku gapapa kok. Kalo mau, ambil aja..” tawarku lagi. Tapi dia malah menggeleng. “yasudah, kalau makanannya dibagi dua gimana?” aku kasihan juga sama anak ini. Udah tadi pagi ketabrak sampe tangannya baret-baret, sekarang dia lupa bawa duit lagi. “aku gak bawa sendok dua. Tapi aku bawa sendok sama garpu. Kalau mau, kamu pake sendok aja, aku pake garpu.”

“Eeh, ngga. Ngga. Tapi kalo kamu maksa siih, biar aku aja yang pake garpu. hehe” rasa lapar akhirnya memaksanya untuk berpikir realistis. Berpikir bagaimana dia harus bertahan hidup bagaimanapun caranya. Aku memberinya garpu, dan aku memakai sendokku.

“tapi, makannya tunggu Tasya dulu ya...” pintaku. Rumi tersenyum sambil mengangguk pasti.

Tak lama, Tasya datang sambil membawa kotak makanan. “Eh, siapa lo? Kok tiba-tiba ada di sini?” ucapnya pada Rumi, ketus. Tapi sebenarnya aku tahu kalau dia hanya bercanda.

“Yaelah, masa gue ga boleh ikutan siih...” Rumi pura-pura cemberut.
“ngga. Lo malah ganggu gue sama Legi...” Tasya menimpali. Sambil menggaet badanku.

“ih, ih... gawat lo. Lo lesbiola ya??” cetus Rumi ngasal. Aku dan Tasya saling berpandangan pertanda gak ngerti dengan apa yang dia maksud. Dan sepertinya Rumi menyadari hal itu. dia langsung menambahkan. “iya, lesbiola. Pecinta sesama jenis...”
“Itu lesbiiii!!” ucapku dan Tasya bersamaan.

“mulut-mulut siapa? Terserah gue dooong...” kini Rumi menarikku agar menjauh dari Tasya. “aku sih yakin kalau kamu gak lesbi juga...” ucapnya padaku.
“aaahhh, udah udah. Geli gue. Aku-kamu, aku-kamu. Kaya udah pacaran aja.” Gerutu Tasya sambil membuka kotak nasinya. Aku pun agak menjauh dari Rumi, disebut oleh Tasya dengan istilah seperti itu membuatku malu. Aku lalu membuka bekal makanku, sampai aku sadari bahwa aku akan makan satu kotak berdua dengan Rumi, semakin membuat mukaku memerah karena malu.

Rumi menyiduk nasi dengan garpu yang telah aku berikan tadi dengan susah payah, karena memang agak susah menyiduk dengan garpu. Aku menatapnya, cowok ini, baik, ramah. Wajahnya imut, tampan juga.

Aku juga kemudian menyiduk nasiku, kami makan bersamaan tanpa ada suara sedikit pun. Kedua orang ini baik sekali terhadapku. Rumi yang selalu membuatku ceria, dan Tasya yang tanpa melihat keadaanku seperti apa mau dekat-dekat denganku. Aku rasa... wir sind Freunde.

Komentar