ich liebe Deutsch, wie ich dich liebe---Teil 7



Teil 7 : The Power Rangers

Hari ini cerah sekali. Awan-awannya putih dan langitnya benar-benar biru. Aku suka sekali dengan langit. Aku masih ingat setiap kali cuaca sedang cerah, Karin selalu mengajakku tiduran di balkon sambil menatap langit. Bagaimanapun usahaku untuk melupakannya, langit selalu mengingatkanku akan Karin, bukan hanya karena kenangan itu, namun juga menurutku Karin adalah gambaran sesosok langit yang hidup, dimana dia dengan mudah mengungkapkan perasaan yang sedang dialami ketika itu juga. Menangis, bersedih, marah, senang, dia luapkan dengan mudah di depanku, seperti langit ketika hujan, badai, atau cerah seperti hari ini. Berbeda denganku, yang sangat memegang teguh prinsip manusia, memegang teguh budaya hipokritis, atau munafik sekalipun aku tidak pernah ingin melakukannya. Aku ingin seperti Karin, seperti langit.

Aku termangu di depan pintu gedung, menatap langit lumayan lama. Sampai-sampai aku tidak sadar bahwa badanku menghalangi akses masuk keluar dan ke dalam gedung, seseorang menegurku dengan nada yang kesal. “Excusez-moi (Ekskuze mwa) *permisi” aku menoleh, orang yang berbicara itu seorang mahasiswi dengan tampilan yang sangat fashionable, tipikal mahasiswi Bahasa Prancis. Aku segera menyingkir dari tempat itu seraya menjawab dengan  bahasa Prancis yang aku pelajar secara autodidak dahulu. “Ah, Oui. Sil vous plait. Je vous demande pardon. (Ah, wi. Sil vu ple. Je vu demangd pardong) *ah, ya. Silahkan. Saya minta maaf”. Mahasiswi itu hanya mengangkat halisnya sambil tersenyum.

Aku lalu berjalan menuju entah ke mana. Aku hanya mencari-cari Rumi dan Tasya. “Gi!!” ada yang memanggilku, dengan refleks aku menoleh. Tasya, Rumi, Jerry, dan Ridho, mereka berjalan ke arahku. Yang aku heran sekarang adalah kenapa Tasya dan Rumi bisa bersama dengan Jerry dan Ridho? Padahal setahuku, Rumi dan Tasya tidak begitu dekat dengan Jerry, apalagi dengan Ridho. Mereka berjalan menujuku, dan begitu pun denganku. Aku berjalan menuju mereka.

“Kalian, kok bisa barengan? Dari mana??” tanyaku heran. Mereka tersenyum, kecuali Jerry yang terus-terusan menatapku dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan tatapan yang seakan-akan tidak setuju dan tidak rela dengan penampilan baruku.

“bagusan kayak dulu gi.” Ucapnya. “kalo lo cantik gini, gue jadi gak naksir lagi sama lo.” Ucapnya. Bagus deh, pikirku. Ridho menyikut perut Jerry sambil memelototinya. Sedangkan Rumi dan Tasya menatap aneh pada cowok yang mempunyai selara aneh ini. Aku senang, mendengar ucapannya. Mendengar bahwa dia tidak menyukaiku lagi. Dan tidak ada niat sedikit pun untuk mengubah penampilanku lagi.

“tadi, gue, Rumi, sama Jerry lagi kebetulan ngobrolin tentang tugas Bu Lisa di taman. Gak tahunya, Ridho lewat, dan ngajakin kita makan deh..” jawab Tasya sambil tersenyum.

Aku mengangguk mengerti, namun sedikit kecewa juga. Niatnya kan aku mau makan bareng dengan Rumi dan Tasya, eh gataunya mereka udah ditraktir sama Mr. Good looking ini. Tahu begitu, aku tadi ikut aja deh begitu diajak.

“Eh, tapi kita beli dibungkus kok. Tadi Ridho bilang dia ngajak kamu, tapi kamu nolak gara-gara mau makan sama kita. Jadi yaaa, kita semua tadi nyariin kamu buat makan bareng.” Rumi seperti biasa dengan gayanya yang ramah dan halus dapat membuatku tersenyum. Aku senang.

“Ayo! Kita berangkat ke basecamp kita!!” teriak Tasya. Aku dan Rumi manyahut “Ayo!!” sedangkan Jerry dan Ridho yang tidak tahu apa-apa tentang basecamp yang kami maksud saling bertatapan dengan wajah skeptis.

Basecamp yang aku, Tasya, dan Rumi maksud adalah tempat pertama kali kami makan bersama. Yaitu di bawah pohon ketika hari pertama kuliah, ketika Tasya mengajakku makan bersama, dan akhirnya Rumi makan satu kotak bekal denganku. setelah hari itu, hampir setiap hari, aku, Rumi, dan Tasya setiap jam istirahat siang duduk di basecamp tersebut.

Tasya jalan di depan, seakan memimpin pasukannya dan 2 anggota baru. Tak sampai 1 menit menuju basecamp itu, karena memang pohon tersebut berjarak cukup dekat dengan bangunan gedung, dan masih dalam lingkup taman fakultas. “Wilkommen zu unserer Führungsstelle!!” ucap Tasya ketika sampai di tempat itu.

Ridho menyikut Jerry, sambil berbisik “dia ngomong apa?”

“selamat datang di markas kami.” Jawab Jerry. Ridho mengangguk. Kami duduk di sana, di bawah pohon itu. Rumi, Tasya, Jerry, dan Ridho segera membuka nasi kotak mereka. isinya ada nasi, sayur capcay dan ayam bakar. Sedangkan aku, seperti biasa membuka kotak bekalku. Menu hari ini, nasi dengan telur dadar gulung, dan tumis kornet setengah mateng. Sayurnya, brokoli dan wortel rebus.

“kamu mau coba ayam bakarnya gak?” tanya Ridho padaku sambil menyodorkan nasi kotaknya. Aku menggeleng seraya menjawab “aku gak suka daging ayam... kamu mau coba bekalku??” aku balik menawarinya.

“boleh bagi kornetnya? Aku suka tumis kornet setengah mateng.” Ucapnya. Aku mengangguk “Nunja (boleh)” lalu menyiduk sebagiannya, dan memberikannya pada Ridho. Dengan senang, dia menerimanya, kami pun melanjutkan makan kami.

“Kita berdua, boleh ikut ngumpul bareng lagi ga??” tanya Ridho tiba-tiba. Tasya, melirik Rumi, Rumi melirikku, dan aku melirik Tasya.

“Boleh.” Tasya yang menjawab singkat. Lalu kembali menyantap makanannya. Sedangkan Jerry malah menunjuk-nunjuk kami dengan telunjuknya. “satu, dua, tiga, empat.” Dan akhirnya menunjuk dirinya sendiri “lima.” Dia berpikir sebentar, lalu “Eh, gimana kalau kita buat kelompok sendiri??” usulnya.

Kami berempat mengernyitkan kening. “maksud lo bikin geng, gitu??” tanya Tasya memastikan. Jerry mengangguk. “aisssh, itu kekanak-kanakan banget Jer..” lanjutnya.

Jerry cemberut. “Tapi kan, jumlah kita pas, berlima. Kayak Power Ranger.” Ucapnya lagi. Power Ranger?? Dia pikir kita lagi main kali ya? Idenya unik, tapi mungkin lebih enak dibilang aneh.

“wah, ide bagus tuh!” cetus Rumi. “Gue setuju sama idenya si Jerry.” Tasya dan aku melotot mendengar ucapannya. “kenapa?” tanyanya heran.

“gue juga setuju.” Timpal Ridho. 3 lawan 2. Waw, sudah tidak ada kesempatan buat Tasya menolak. Kalau aku siih, aku sebenarnya setuju-setuju aja. Karena itu berarti teman-teman dekatku akan bertambah lagi 2 orang.

“Yaudah deh gue juga setuju.” Ucap Tasya pada akhirnya.

“Okay, kalau begitu...” Rumi mengetuk-ngetuk telunjuknya di depan dagu. Lalu menunjuk Ridho. “karena lo paling good looking di sini, berarti lo Ranger merahnya, Jerry ranger biru, Tasya ranger Pink, Legi ranger kuning, dan gue ranger hijau. Gimana? Setuju??”

“Okay setuju!!” jawab Ridho.

“gue juga setuju.” Jerry juga menjawab.

Tasya akhirnya mengangguk, begitupun denganku. Ranger kuning?? Hahaha serasa lagi main drama.

Komentar