Ich liebe Deutsch, wie ich dich liebe---Teil 6

Teil 6 : die Wahrheit (The Fact)

“mau pada makan apa nih?” tanya Rumi pada kami berempat, aku, Tasya, mbak Rani, dan mbak Eva. “aku mau pesen soto betawi. Mau sekalian juga ga dipesenin?” tawarnya. Untuk sementara kami terdiam, berpikir.

“Ya, aku juga soto deh...” jawabku.

“aku sama Eva biar pesen aja sendiri.” Jawab mbak Rani.

“kalau aku samain aja sama lo, sama Legi. Soto juga...” Tasya pun sudah memilih. Rumi mengangguk lalu memesan 3 porsi soto Betawi di kedai makanan khas Jakarta di sebelah kiri dari tempat kami duduk. Sedangkan mbak Rani dan Eva pergi ke arah depan, menuju kedai makanan Jepang.

Sekitar 10 menit menunggu, makanan yang kami pesan sudah datang. Aku memesan jus Apel untuk minumnya, sedangkan semuanya memesan jus Alpukat. Aku gak suka alpukat. Apalagi kalau dijus. Lihat sendiri kan? Bentuknya kalau dijus jadi kaya gimana? Menurutku... maaf nih ya, mirip ingus. Eeeewww...

“Eh Leg, kok lo mau sih nyalon?” tanya Tasya tiba-tiba. Belum sempat aku menjawab, mbak Eva langsung nyerobot menjawab “Ya dia pasti maulah... orang dibayarin. Hahahaha” jawabnya. Kami semua tertawa.
 
“Kalau dandan gini kamu cantik deh...” Rumi menimpali.

“Ooh, jadi biasanya aku jelek gitu?” tukasku sewot.

“ngga, biasanya kamu juga cantik, cuma cantiknya ketutup. hehe.”

“Lo tuh mestinya tiap hari kaya gini, pasti deh banyak yang naksir. Si Rumi juga kayanya bakal naksir lo tuh... hahaha” canda Tasya, Rumi juga mengangguk menimpali candaan Tasya. 

Semuanya tertawa termasuk aku. Aku memalingkan wajahku sambil tertawa, tak sengaja melihat ke arah kiriku, dua orang yang tadi aku lihat sedang berjalan berduaan, sedang duduk di bangku Food Court yang jaraknya sekitar 3 meter dari tempat duduk kami. Aku menatap pria yang juga menatapku dengan ekspresi wajah yang aneh seakan-akan kaget. Dari ekspresinya aku tahu bahwa dia tidak ingin aku melihatnya. Dia seolah-olah hendak bersembunyi ketika aku menatapnya. Sedangkan si perempuannya duduk membelakangiku, sehingga aku tidak bisa melihat langsung wajahnya.

Aku mengerti dengan ekspresi wajah pria itu, Faris, maka dari itu aku langsung kembali memalingkan wajahku. Aku melanjutkan makan, dan kembali bercanda dengan mbak-mbakku yang baik dan kedua sahabatku.

***

“ini dompetnya...” aku menyerahkan dompet itu pada empunya, Faris, yang sedang duduk di bangku koridor. Dia menerima dompet itu, sambil tersenyum kecut. Aku membalas senyumnya semanis yang aku bisa karena walaupun aku tahu dia sedang berakting baik dan seolah tidak terjadi apa-apa, aku tahu dia sedang bingung. Aku tidak mau membuatnya makin bingung jika aku bertingkah judes.
“mmm, Leg. Kamu gak buka dompet aku kan?” tanyanya kemudian.

Aku terdiam sebentar, menarik nafas lalu dengan berat menggelengkan kepalaku. “Es tut mir wirklich wirklich wirklich leid.. (maaaaf, maaf bangeeeet)”

Dia juga menarik nafas berat. “Apa saja yang kamu liat?” tanyanya lagi, tapi kali ini suaranya terdengar bergetar.

“alles, semuanya” jawabku singkat.

Dia menunduk “hhhh, lalu yang kemarin itu, kamu lihat? Tolong jangan kasih tahu siapa-siapa ya?”

Aku terdiam sebentar. “Rumi dan Tasya juga gak boleh tau?” tanyaku. Dia mengangguk lemah, matanya menatapku seakan-akan memelas. “sekali lagi, es tut mir leid. Gue udah kasih tahu mereka.” lanjutku bohong. Aku memang belum memberi tahu Rumi dan Tasya akan hal ini, tapi aku sudah berniat memberi tahu mereka. mungkin terdengar jahat bagi Faris, tapi aku tidak bisa menyimpan sebuah rahasia dari dua orang yang menurutku sangat berharga. Setelah sebelumnya, aku kehilangan seorang sahabat yang sangat berharga buatku, mentega, Karin, sahabat khayalanku. Aku tidak ingin kehilangan lagi kali ini.

Dia kembali menarik nafas lagi. “aku gak mau hubungan kami sampai diketahui sama banyak orang.” Ucapnya lirih.

Aku terdiam, lalu “aku janji Rumi dan Tasya gak akan kasih tahu siapa pun lagi. Aku akan meminta mereka untuk tetap membuat masalah ini jadi rahasia kita.” Dia menatapku nanar, pandangannya seolah berkata ‘kamu yakin, mereka bisa jaga rahasia?’ aku melanjutkan, membuatnya mantap “aku janji, mereka teman-temanku. Aku tahu mereka teman yang baik.” Ucapku optimis. Faris menatapku untuk beberapa saat, “dan kalau aku berjanji, aku tidak akan pernah mengingkarinya.” Yakinku lagi. Sampai akhirnya dia tersenyum.

“aku percaya kalau kamu bilang gitu. Makasih ya...” ucapnya. Aku tersenyum.

“mmm, kalau boleh tahu, kamu sama Granita udah dari kapan pacarannya?” tanyaku. “tapi kalau kamu gak mau kasih tau gak apa-apa kok. Hehehe”

“dari kelas 3 SMA. Kami satu sekolahan. Kebetulan juga masuk jurusan sama.” Jawabnya. “aku, selain karena memang dia cantik, aku suka dia karena dia itu pintar, sopan juga.” Lanjutnya. Aku mengerti perasaan dia bagaimana, aku hanya mengangguk tersenyum, aku juga pernah merasakan hal seperti itu pada Herr Joan. Dan rasanya memang menyesakkan ketika kita pada ujungnya tidak berhasil menyatakan perasaan kita, seperti halnya aku.

“Granita itu.. sosok gadis yang sempurna ya?” cetusku. “aku rasa, kamu beruntung bisa dapetin dia. cewek kaya dia itu, langka. hehe” Faris mengangguk sambil tertawa. Dia mirip Herr Joan.

“Tapi, boleh aku jujur?” ucap Faris tiba-tiba. “aku tahu, aku salah. Tapi aku sepertinya menyukai orang lain selain Granita.” Aku kaget mendengar ucapannya.

“m-mana bisa?”

“ya, aku tahu aku salah. Namun, dibanding Granita, aku sudah menyukai gadis itu sedari sebelumnya.” Timpal Faris.

“lalu kenapa kamu tidak menyatakan perasaanmu pada gadis itu, dan malah pada Granita?” aku heran.

“Gadis itu, aku belum pernah bertemu sama sekali dengannya. Tapi meskipun begitu, dia memberiku motivasi untuk terus berusaha mencapai sesuatu yang benar-benar ingin aku raih lewat cerita-cerita tentangnya.” Faris berbicara panjang lebar.

“jangan bilang kamu suka sama tokoh dongeng... hahaha” aku rasa Faris hanya mengidolakan seorang tokoh perempuan pada cerita dongeng. Mungkin Red riding Hood, atau thumbelina. Entahlah.

“dia bukan dongeng. Dia nyata...” timpalnya sedikit nyolot.

Aku makin bingung. “memangnya cerita seperti apa yang menggambarkan dirinya? Boleh aku tahu?” pintaku.

Faris menarik nafas “Es tut mir leid, ich soll nicht über sie erzählen. (maaf, aku seharusnya gak bahas tentang orang ini.)” Aku menyandarkan punggungku pada sandaran kursi ketika mendengar jawabannya. Yasudah deh, gak baik juga maksa orang buat cerita.

“hai Legi.” Seseorang menepuk bahuku sambil memanggil namaku. Aku meliriknya. Cowok good looking yang hobby senyum itu sedang berdiri di sampingku.

“Eh, hai Ridho. Lagi apa nih di gedung bahasa?” aku membalas sapaannya. “nyari Jerry ya?” tanyaku.

Dia menggeleng. “nggak. Gue lagi iseng aja, kebetulan habis rapat sama teman-teman di gedung ini. Eh gak sengaja liat lo di sini. Ga ada kuliah ya?” tanyanya. Aku menggeser dudukku, begitupun dengan Faris. Mempersilakan Ridho untuk duduk di sebelahku.

“masih ada kok. Cuma ya belum jamnya aja.” Jawabku. “Oh iya, kenalin nih Faris.” Mereka bersalaman.

“Ridho”, “Faris” mereka saling menyebutkan namanya masing-masing.
“pacar lo?” tanya Ridho.

“Bukaan, aku gak punya pacar. Dia temenku, temen sekelas..” jawabku.

Ridho mengangguk sambil membulatkan mulutnya. “eh, udah makan belum? Makan yuk? Gue traktir deh..” tawarnya.

“eeeh, gimana ya?” aku bergumam sambil menatap Faris. Tidak enak juga kalau meninggalkan anak ini sendirian, selain itu aku gak biasa makan dengan orang yang baru saja aku kenal. “kayanya ngga deh. Aku udah janji mau makan sama temen-temenku. Sorry ya dho...” tolakku. Ada sedikit ekspresi kecewa pada wajah ridho. Tapi pada akhirnya dia tersenyum sambil mengangguk.

“Ya udah, gapapa. Lain kali jangan sampai ngga loh..” ajaknya. “gue nyari makan dulu ya. Bye...” dia berdiri lalu berjalan menuju ujung koridor, dan menghilang di balik pintu keluar.

Kini hanya tinggal aku dan Faris duduk di bangku ini. Seperti sebelumnya. Aku mengawali percakapan kembali. “Eh, aku gak apa-apa nih, ngobrol deket gini sama kamu?” tanyaku. 

Faris menggeleng sambil tersenyum. “gak apa-apa. Nyantai aja.”

Aku mengangguk. Tersenyum juga. Namun tetap saja setelah tahu kalau Faris adalah pacar Granita, rasanya aku mulai tidak nyaman jika berada dekat-dekat dengan dia. mungkin lebih tepatnya tidak nyaman pada Granita. Sampai akhirnya aku meninggalkannya, dan mencari Rumi dan Tasya.

Komentar