Ich liebe Deutsch, wie ich dich liebe---Teil 5
Teil 5 : Wer ist Granita, eigentlich? *dibaca
wer ist Granita aygentlih (siapa sebenarnya Granita?)
Sabtu, hari libur. Senang? Tentu. Bosan?
Pastinya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12.28. dan sedari 5 aku duduk di
depan meja belajar ini. Kadang memainkan Games Ale, sms dengan Rumi dan Tasya,
memcorat-coret sesuatu di buku, membaca materi kuliah, belajar, sampai akhirnya
sekarang melihat-lihat fotoku ketika masih kecil di album keluarga yang aku
bawa dari rumah. Aku tersenyum-senyum kecil melihat betapa lucunya aku yang
dulu masih sangat polos dan lugu.
Pikiranku melayang, mengingat masa-masa itu,
lalu melihat kembali gambar-gambar diri yang tanpa beban bisa melepaskan
ekspresinya ketika itu. Aku ingin kembali menjadi anak kecil, ingin dengan
bebas melepaskan dan mengeluarkan ekspresi sebagaimana yang aku rasakan ketika
itu. Tidak seperti sekarang. Dimana aku harus berkutat menahan ekspresi yang
tidak layak untuk aku keluarkan di depan umum.
“Leg, Legi...” tiba-tiba, di tengah lamunanku
seseorang memanggilku dari lantai dasar. Suaranya, aku kenal. Itu suara mbak
Rani.
“iya mbak?” tanyaku sambil berjalan keluar
kamar menghampirinya. Mbak Rani berdiri di depan tangga, sambil mengacungkan
sebuah dompet.
“Temenmu yang tadi malem itu kayanya sekarang
lagi nyari dompetnya Leg...” dia lalu menghampiriku yang berada dua tangga di
depannya, lalu memberikan dompet itu, sambil
kemudian hendak kembali ke dalam kamarnya.
“Ehh, makasih mbak. Nanti aku balikin ke
orangnya.”
“Ya harus doong, kalau ga dibalikin mau kamu
apain? Curi duitnya??” dia bercanda sambil berjalan. Ucapannya terdengar
setengah tertawa. Aku tersenyum dan langsung kembali masuk ke dalam kamarku.
Tidak duduk lagi di kursi depan meja belajarku,
kini aku menjatuhkan badanku di atas kasur. Lalu menatap dompet itu. aku
penasaran dengan isinya. Bagaimana isi dari dompet seorang bintang kelas.
Apakah standar-standar saja, hanya uang, dan kartu identitas aja, atau mungkin
ada hal yang tidak biasa?
Tanpa meminta izin dari si empunya dompet, aku
perlahan membukanya. Sasaran utama adalah tempat uangnya. Hehehehe, ga ada niat
buat mencuri, cuma yaaa penasaran aja kenapa dompetnya keras dan tebel. Apa
karena isinya duit doang, atau kartu-kartu di dompetnya yang bikin tebel? Atau
mungkin uangnya recehan jadi bikin tebel. Hehehe entahlah.
Begitu dibuka, jumlah uangnya standar. 3 lembar
uang 100 ribuan, 1 lembar 50 ribuan, 4 lembar 10 ribuan, 2 lembar 5 ribuan, dan
beberapa uang 1000an yang entah berapa jumlahnya. Banyak juga uangnya.
Aku menutup kembali tempat uangnya, lalu
melihat-lihat kartu yang diselipkan di dompetnya. Ada KTP, SIM, Kartu
Mahasiswa, 2 buah kartu kredit, dan 2 buah Atm. Pantesan dompetnya tebel.
Di sebelahnya, ada foto dirinya berukuran 2R.
Jika diperhatikan, wajahnya mirip dengaaann... Herr Joan. Aku menarik foto itu
dari tempatnya, sampai ketika berhasil mengambilnya, foto seorang gadis cantik
berukuran 4x6 yang disimpan dibalik foto tadi menarik perhatianku. Gadis itu
mengenakan jilbab putih, dan mengenakan seragam batik SMA. Aku sangat kenal
dengan gadis di foto itu, dia...
Granita.
***
Sabtu sore, karena benar-benar tidak ada hal
yang bisa aku kerjakan, akhirnya aku terperangkap di sini. Di sebuah salon
kecantikan terkenal. Kok bisa? Karena Mbak Rani dan Mbak Eva, tetangga kosku,
memaksaku ikut untuk mengantar mereka salonan. Entah karena kasihan melihatku
gak ada kerjaan, atau karena mereka benar-benar pengen bayarin aku salonan.
Tapi lebih logis alasan pertama.
Sudah hampir satu jam, dan rambutku sukses
diobrak-abrik oleh mbak-mbak salonnya. but, The result looks good J. Sekarang bagian
wajahku difacial, sembari kakiku dipijat dan kukuku dikerjain sama mbak-mbak
salon yang beda lagi dengan yang obrak-abrik rambutku.
Oh iya, dompet Faris. Tadi aku sudah nelpon dia
dan bilang kalo dompetnya ketinggalan di kosanku. Ketika aku nelpon, dia memang
lagi cari-cari dompetnya. Dia bilang gak usah dikembalikan hari ini atau besok.
Nanti saja hari senin di kampus. Yaaa, kalo itu mau dia sih yowes.
1 hal yang membuatku senang, kini hubunganku
dengan Faris sudah baik lagi. Bahkan mulai akrab. Tidak seperti dulu-dulu yang
bahkan jika berpapasan dengannya aku selalu merasa tidak punya muka.
Tapi, aku masih tidak menyangka kalau Faris
adalah pacarnya Granita. Memang sih aku belum dapat bukti apa-apa. Tapi,
bagaimana bisa foto seorang gadis berada dalam dompet seorang Cowok kalo mereka
tidak berpacaran. Terus, mengingat mereka berasal dari kota yang sama, Bogor,
bukan hal tidak mungkin kalau dulunya mereka satu sekolahan, dan berpacaran.
Menurutku itu sudah cukup untuk menjadi bukti bahwa mereka memang benar
menjalin sebuah hubungan.
Tapi, entah kenapa. Setelah melihat foto Faris
di dompetnya tadi, terus mengingatkanku pada Herr Joan. Mereka mempunyai senyum
yang sama. ahh, mengingat-ngingat hal seperti ini membuatku rindu pada guruku
itu. Herr Joan, yang baik, perhatian, dan selalu menghiburku, juga tampan dan
manis. Jujur saja, sampai sekarang aku masih menyimpan rasa padanya. Tapi entah
mungkin atau tidaknya perasaanku ini tersampaikan kepadanya, bahkan karena
masalah jarak dan waktu untuk melihat dan bertemu dengannya pun sudah tidak
bisa.
Mataku tertuju pada majalah yang aku pegang,
namun pikiranku melayang ke mana-mana. “mbak, sudah selesai mbak...” ucap
pegawai salon itu. aku terhenyak, lalu berdiri dari dudukku. Berjalan menuju
cermin, dan melihat wajahku yang jelas sekali perbedaannya dari before menjadi
after. Rambutku juga sekarang terlihat lebih mengembang. Aku jadi cantik,
menurutku. Senang.
Setelah itu, setelah mbak-mbak kos yang sedang
kebanyakan duit yang habis traktirin aku nyalon, kami berencana untuk
makan-makan dulu di Food Court. Di tengah pejalanan menuju Food Court yang terletak
di lantai 3 mall ini, kami saling mnegobrol sambil tertawa-tawa. Aku sadar,
orang-orang memperhatikan kami dengan pandangan kagum, mungkin terpana dengan
kecantikan kami. Hehehe, tapi yang aneh adalah aku menikmatinya. Aku menikmati
ketika orang-orang memandangku, bukan dengan pandangan yang menyepelekan, tapi
dengan pandangan kagum. Hal itu benar-benar membuatku senang.
Oh iya, setelah aku selesai salonan tadi, aku
langsung telepon Rumi dan Tasya buat dateng ke sini, aku mau kenalin mereka
sama dua mbak kosanku yang baik ini. Hehehe. Dan beruntungnya, mereka bisa.
Sambil mengobrol, aku berjalan membelakang,
menghadap mbak Rani dan mbak Eva. Sampai kahirnya Bruk!! Aku tidak sengaja
menabrak seseorang di belakangku karena tidak melihat jalan. Aku langsung
kebalikan badanku dan membungkuk minta maaf. “maaafff...” ucapku tanpa melihat.
“Legi?” tanya orang yang aku tabrak tadi. “Lo
Legi kan?” tanyanya lagi meyakinkan. Aku mengangkat wajahku untuk melihat wajah
orang yang aku tabrak tadi. Astaga!!! Orang itu adalah orang yang paling aku
hindari! Dia.. Jerry, dia sedang menatapku dengan wajah yang skeptis, seperti
sedang memastikan bahwa aku benar-benar seseorang yang dimaksudnya. “Lo, habis
salonan ya?” tanyanya lagi setelah dia yakin. Di sebelahnya seorang pria good
looking seumuran denganku menatapku. Aku tidak kenal dengannya. Mbak Rani dan
mbak pamit duluan ke Food Court, dan aku akan menyusul mereka nanti.
Aku menggaruk-garuk rambutku yang tidak gatal,
pertanda gugup. “e-eh. Iya. Hehehe” jawab singkat sambil cengengesan. Dia
memalingkan wajahnya sambil tersenyum aneh.
“Lo mestinya gak usah salonan atau dandan
segala Leg...” dia sekarang menatapku.
Aku menjawab. “tapi aku jadi cantik kan? hehe”
aku masih saja menjawab dengan cengengesan.
Dia menepuk jidatnya, sambil mendesah. “Leg,
gue itu suka sama lo... karena lo dulu itu bener-bener tipe gue. Tapi sekarang
kayanya sebaliknya deh. Gue jadi rada ilfell sama lo.” Aku terperanjat
mendengar ucapannya, bukannya karena kecewa, melainkan karena merasa kaget mendapat
hadiah besar. Ini mimpikah?? Tapi aku masih bingung dengan tipe cewe yang
disukai Jerry. Aku langsung bertanya “memangnya tipe cewek lo kaya apa Jer?” tanyaku
sudah agak tenang, gak gugupan lagi.
“gue siih, suka cewe jelek.” Jawabnya singkat.
Heeeee???? Kok aneh sih? Emang ada ya, cowok yang gak suka sama cewek cantik?
Kayanya Jerry mengalami masalah kejiwaan deh. Tapi ucapan yang keluar dari
mulutnya ini mengeluarkan pemikiran baru dalam otakku. Aku berpikir berarti
dulu aku termasuk golongan cewe jelek dong? “Yaaa, setelah lo dandan gini, gue
tau kalo gue salah suka sama orang. Gue sadar sekarang bahwa pada dasarnya lo
ini cantik. Buktinya kan?” lanjutnya sambil menunjuk wajahku. Aku
tersenyum-senyum aneh karena malu. Pemikiran baru lagi, kayanya Jerry bisa baca
pikiran orang.
“Jerry emang gitu orangnya, dia aneh.. hehe”
cowok yang sedang jalan bersama Jerry itu menimpali sambil tersenyum. Aku hanya
mengangguk sambil membalas senyumnya, selintas aku menatapnya dari ujung kaki
sampai kepala. Orangnya tinggi, kutaksir mungkin tingginya sekitar 178 atau 180
an. Gayanya juga sedikit modis. Aku lihat dari merk sepatunya, jam tangannya,
motif kemejanya yang identik dengan brand tertentu. Sepertinya anak ini dari
kalangan atas.
“Oh iya Leg. Kenalin. Ini sepupu gue...” ucap
Jerry tiba-tiba.
Cowok itu mengulurkan tangannya, dan aku
menjabatnya. “Gue Ridho.” Dia tersenyum lagi. Mungkin tersenyum sudah jadi
hobbynya.
“Aku Legi.” Timpalku.
Jerry melepaskan jabatan tangan kami. “udah ah
jangan lama-lama.” Ucapnya. “Leg, lo hati-hati sama dia, dia itu playboy loh.”
Lanjut Jerry sambil nakut-nakutin.
“jangan dengerin dia..” cowok yang bernama
Ridho itu menjitak kepala Jerry. “Lo satu kelas sama Jerry ya?” tanyanya. Aku
mengangguk. “berarti satu fakultas juga dong sama gue... bisa sering ketemu
dong ya?”
“Tuuuuhh kan... mulai deh modusin cewe...”
Jerry memotong.
“Apaan sih lo?” dia lalu membekap mulut Jerry.
Dan Jerry berusaha untuk melepaskannya, namun tidak berhasil. Sekarang
adegannya seperti Jerry sedang berusaha diculik. Aku tertawa melihat kelakuan
dua orang ini.
“Udah, udah.. kasian Jerrynya...” ucapku pada
Ridho. Dia lalu melepaskan bekapan tangannya pada mulut Jerry. Jerry
megap-megap seperti ikan yang diambil keluar dari air. “by the way, kamu tadi
bilang kita satu fakultas. Memangnya kamu dari jurusan apa?” tanyaku kemudian.
“Jurusan seni musik.” Dia menjawab sambil
tersenyum lagi. Jujur saja senyumnya memang manis, dan aku rasa itu memang
sudah menjadi hobbynya.
“Waaaa keren..”
ucapku. “pintar main alat musik dong ya?” tanyaku lagi.
Ridho mengedikkan bahunya sambil menjawab.
“Cuma gitar, sama keyboard aja. Kamu bisa main alat musik juga?”
“dulu pernah belajar biola. Tapi gak sampai
mahir. Keyboard juga dikit-dikit. hehe” dia hanya mengangguk. Jerry sekarang
lebih banyak diam. Gatau kenapa mungkin dia malu dilihat sama banyak orang
karna bercandanya dengan Ridho tadi menarik perhatian banyak orang. Tahu malu
juga nih anak. Hehehe
“Legiii!!” beberapa meter dari tempatku berdiri
aku melihat Rumi dan Tasya memangilku sambil melambai-lambaikan tangan mereka.
aku tersenyum.
“eh, aku pergi dulu ya... sampai jumpa di
kampus...” pamitku buru-buru pada Jerry dan Ridho. mereka hanya mengangguk, dan
aku langsung berlari menuju Rumi dan Tasya berada.
“Woooowww” ucap Rumi dan Tasya ketika melihat
penampilanku. Lalu dilanjut dengan tawa mereka. aku pun ikut tertawa. Kami lalu
melangkah menuju Food Court. dimana mbak-mbak kosku yang baik sedang menunggu.
Komentar
Posting Komentar
Selamat berkomentar :)
Silahkan mencopy isi blog dengan menyertakan sumbernya :D